Written by Y Priyono Pasti    Friday, 12 March 2010   
Menjaga Amanat Rakyat

BELAKANGAN ini, kepercayaan rakyat terhadap pemerintah dan penyelenggara negara (pemimpin) mengalami degradasi. Tidak sedikit massa rakyat kehilangan kepercayaan dan tak peduli terhadap pemerintah dan penyelenggara negara. Rakyat tak percaya lagi pada pemimpinnya. Banyaknya suara golput di sejumlah pilkada di tanah air dan seruan golput oleh kelompok tertentu pada pemilu 2009 yang lalu membuktikan hal itu.

BELAKANGAN ini, kepercayaan rakyat terhadap pemerintah dan penyelenggara negara (pemimpin) mengalami degradasi. Tidak sedikit massa rakyat kehilangan kepercayaan dan tak peduli terhadap pemerintah dan penyelenggara negara. Rakyat tak percaya lagi pada pemimpinnya. Banyaknya suara golput di sejumlah pilkada di tanah air dan seruan golput oleh kelompok tertentu pada pemilu 2009 yang lalu membuktikan hal itu.

Mengapa semua ini bisa terjadi? Penyebabnya antara lain, tidak sedikit pemimpin kita yang tak mampu membangun integritas dan kredibilitasnya. Banyak pemimpin tidak mampu menunjukkan kelebihan yang dimiliki dan apa yang seharusnya dilakukan sebagai pemimpin. Kredibilitas yang profesional melalui pembangunan institusi dan langkah-langkah pemberdayaan yang dapat mengangkat harkat dan martabat rakyat, serta memiliki kemampuan sikap dasar yang profesional banyak pemimpin tak melakukan dan memilikinya.

Banyak pemimpin kita jarang sekali (setelah terpilih) melakukan komunikasi politik,memberikan informasi, dan edukasi politik. Mereka jarang melakukan penyegaran-penyegaran politik, membangun, dan menjaga kepercayaan rakyat konstituennya. Padahal karena dukungan rakyat pemilihnyalah mereka dapat menduduki jabatan tertentu, baik di legislatif, eksekutif, yudikatif, maupun jabatan lainnya.

Selain itu, tidak sedikit pemimpin kita (yang diberi kepercayaan oleh rakyat itu) tidak menjaga amanat dan memperjuangkan aspirasi massa pendukungnya. Alih-alih menjaga amanat dan memperjuangkan aspirasi massa pendukungnya, malah menunjukkan dan melakukan perbuatan-perbuatan yang tidak terpuji. Coba lihat banyak para pejabat/pemimpin kita yang tersangkut kasus korupsi, ikut pembalakan liar dan tukar guling hutan, tersangkut illegal logging, memiliki istri simpanan, dan tak malu-malu mempertontonkan foto-foto mesra/syuurnya bersama perempuan lain yang bukan mukhrimnya.

Menyitir Mulyono Daniprawiro (2008), di zaman demokratis seperti sekarang ini,pemimpin itu muncul atas kehendak rakyat. Rakyatlah yang menentukan pemimpinnya.

Karena rakyat yang menentukan pemimpinnya, rakyat tetap akan menuntut agar pemimpinnya lebih memperhatikan aspirasinya. Seseorang bisa menjadi pemimpin karena kepercayaan rakyat. Rakyat memberikan dukungan, fasilitas, bahkan modal. Untuk itu membangun dan menjaga amanat (kepercayaan) rakyat mutlak dilakukan oleh seorang pemimpin.

Pentingnya Menjaga Kepercayaan Rakyat Sebagai seorang pemimpin, apakah ia presiden, menteri, gubernur, bupati/wali kota, dan pejabat/pemimpin lainnya, menjaga kepercayaan rakyat penting mereka lakukan.

Mereka perlu menjaga hubungan kemitraan yang harmonis, kerja sama yang mutualistik, dan saling pengertian dengan massa rakyat.

Pemimpin mesti mau dan perlu mendengarkan keluhan massa rakyatnya, mengerti situasi yang mereka hadapi, peduli pada penderitaan yang mereka alami, memberikan kesempatan kepada rakyat untuk menyampaikan persoalannya, dan tidak mempermalukan mereka.

Persoalan rakyat ditanggapi dengan cepat dan dicarikan solusi terbaik untuk mengatasinya.

Berkaitan dengan pentingnya kepercayaan rakyat ini, Stephen R. Covey dalam bukunya “The SPEED of Trust: The One Thing that Changes Everything” (lih. Mulyono Daniprawiro, 2008) mengungkapkan lima kepercayaan (trust) yang mesti dimiliki, dipelihara, dan diberikan kembali oleh seorang pemimpin kepada massa rakyat konstituennya.

Pertama, Self Trust, percaya kepada diri sendiri. Sebagai pemimpin, ia harus mempunyai integritas yang tinggi, mempunyai visi yang jelas dan tujuan yang baik dalam kepemimpinannya, pernyataan yang lugas dan menyejukkan, tindakan yang kongkrit, dan mempunyai track records yang baik.

Kedua, Relationship Trust. Di sini, adanya tingkah laku organisasi lengkap dengan jajarannya secara konsisten dan berkesinambungan mutlak diperlukan.

Ketiga, Stakeholder Trust. Di sini, pemimpin harus berani menjamin kualitas dari para anggota organisasi dengan memberikan kepercayaan yang sangat tinggi.

Prinsip-prinsip kerja (sama) yang standar untuk membangun dan mengembangkan organisasi mesti diterapkan.

Keempat, Market Trust. Di sini, ukuran yang dipakai oleh seorang pemimpin adalah prinsip reputasi, keunggulan branding image dan menunjukkan bukti nyata bahwa apa yang disampaikan ada buktinya dan produk yang dihasilkan laku dijual.

Kelima, Societal Trust. Di sini, pemimpin harus mampu memelihara kepercayaan yang diberikan oleh masyarakat/rakyat dengan memberikan kembali kepercayaan itu dalam bentuk proses pemberdayaan yang dinamis dan berkelanjutan.

Kiranya di tengah antusiasme para cabup, cawabup, dan sejumlah calon pemimpin lainnya menyongsong pemilukada 2010 di sejumlah daerah di tanah air,  prinsip-prinsip yang mengedepankan kepercayaan (rakyat) sebagaimana diuraikan di atas mesti dimiliki para calon pemimpin. Dengan demikian, kepercayaan masyarakat/rakyat tetap terbangun dan terpelihara. Pemerintahan yang efektif sangat memerlukan partisipasi aktif masyarakat/rakyat.

 

*) Penulis Kepala SMA Santo Fransiskus Asisi Pontianak-Kalimantan Barat