You are here

Dukung Keberadaan Tugu Naga, Massa Datangi DPRD Singkawang

Ribuan massa mendatangi kantor DPRD Kota Singkawang, Rabu (16/6). Kedatangan massa itu untuk aksi cinta damai sekaligus sebagai bentuk dukungan keberadaan tugu naga yang terletak di persimpangan Jalan Kepol Mahmud-Jalan Niaga.

Ribuan massa mendatangi kantor DPRD Kota Singkawang, Rabu (16/6). Kedatangan massa itu untuk aksi cinta damai sekaligus sebagai bentuk dukungan keberadaan tugu naga yang terletak di persimpangan Jalan Kepol Mahmud-Jalan Niaga.

Sambil membentang kain warna merah dan putih sepanjang tiga kilometer atau 3000 meter, dan puluhan karton berbagai tulisan, massa dengan tertib berkumpul di halaman kantor DPRD. Kedatangan massa di bawah bendera Persatuan Pemuda Dayak (PPD) dan Persatuan Pemuda Tionghoa (PPT), itu hendak menyampaikan aspirasinya kepada wakil mereka di DPRD Singkawang.

Sekitar empat puluh perwakilan massa diperkanankan masuk ruang sidang utama. Mereka kemudian disambut pimpinan DPRD Kota Singkawang, pimpinan komisi dan para anggota DPRD.

Dalam pertemuan itu, enam perwakilan massa menjadi juru bicara menyampaikan aspirasinya, yakni Noreseng Yosep, Filipus, Yohanes Mahidin, Susi, Herman Buhing, serta Ketua PPD Kota Singkawang, Nando.

Noreseng Yosep, perwakilan masyarakat Singkawang Timur mengatakan kedatangan mereka sebagai misi damai. Karena misi damai itu, ia menolak ormas-ormas yang merusak kedamaian di Singkawang. Terlebih ormas itu membawa konflik SARA.

"Kita semua bersaudara, Dayak, Cina, Melayu, di Singkawang bersaudara. Selama etnis di Singkawang hidup dengan damai dan tenang. Maka kami menolak bila ada sekelompok orang yang merusak kedamaian itu," tegas Noreseng.

Terkait tugu naga, Noreseng menyatakan pihaknya mendukung sepenuhnya keberadaan tugu naga. Ia tidak ingin tugu naga itu dipindahkan atau bergeser sedikitpun dari tempat semula.

"Kami dukung tugu naga. Kami tidak ingin tugu naga dipindahkan," tegas Filipus saat membacakan pernyataan sikap masyarakat Dayak Singkawang Selatan yang diwakilinya.

Susi, yang mewakili etnis Tionghoa dalam pertemuan itu megatakan tugu naga yang dibangun merupakan ornamen untuk pariwisata. Tugu naga bukan milik etnis Tionghoa, tapi milik beberapa etnis yang ada. Jadi tugu naga yang ada bukan patung sakral.

"Tugu naga hanya sebuah patung, dan maskot pariwisata Singkawang saja," jelas Susi.

Herman Buhing sebagai Ketua III DAD Kota Singkawang, menegaskan tugu naga sangat pantas di Singkawang. Tugu naga itu sebagai ornamen dan hanya patung penambah hasanah wisata di Kota Singkawang.

Setelah semua perwakilan menyampaikan aspirasi, Nando dari PPD menyampaikan kesimpulan tuntutan mereka. Intinya, mereka mendukung tugu naga dan menolak pemindahan.

Oleh Nando, kumpulan aspirasi dalam bentuk tertulis itu disampaikan ke ketua DPRD Kota Singkawang, Tjhai Chui Mie. Nando juga menyerahkan potongan kain warna merah dan putih yang telah dibubuhkan tanda tangan sebagai bentuk dukungan pembangunan tugu naga.


Bubarkan FPI

Tidak hanya berisikan dukungan pembangunan tugu naga, aspirasi yang disampaikan dalam aksi damai itu juga menuntut pembubaran Front Pembelas Islam (FPI) di Kota Singkawang. Mereka menilai FPI hanya sebagai ormas pemecah belah dan menimbulkan kekacau di Kalimantan Barat, khususnya di Singkawang.

"Kekacauan di Singkawang, FPI penyebabnya," kata Noreseng Yosep  memberikan pengantar.

Sebelum FPI ada di Singkawang, kehidupan warga, aman tentram dan damai. Namun ketika FPI ada, perpecahan mulai ada. "Bubarkan FPI," ujar Noreseng.

"FPI sumber konflik," sambung Yohanes Mahidin, juru bicara masyarakat Dayak Singkawang Selatan.

Sementara Susi sendiri mengatakan, keamanan di Singkawang cukup dijaga oleh pihak keamanan. “Kami tidak perlu FPI," ujarnya.

Nando, menegaskan penolakan keberadaan FPI di Singkawang. "FPI di Singkawang menciptakan perpecahan,” kata Nando saat menyimpulkan aspirasi yang disampaikan massa melalui bendera PPD dan PPT Singkawang itu. Usai menyampaikan aspirasi, massa pun membubarkan diri dengan tertib.