Padahal ada 70 kepala keluarga yang tinggal di dusun itu. Tapi mereka menikmati fasilitas dari pemerintah dengan setengah hati. Hanya ada SD Negeri 16 Sungai Bala dan Polindes Sungai Bala.
Jarak tempuh akses ke lokasi itu membutuhkan waktu sekitar 3 jam dari jalan raya Sekadau- sintang. Jika ingin menuju Dusun Sungai Bala, medan jalan sulit dijangkau. Dan harus melewati jalan berbukit dan penuh kubangan lumpur saat melalui Jalan Kayu Lapis. Apalagi jika musim hujan, jalan menjadi licin. Jika tidak hati-hati, pengendara bisa terjungkal karena kehilangan keseimbangan dalam berkendara.
Medan jalan yang menantang ini menjadikan Sungai Balamenjadi terisolir. Belum lengkap dengan medan jalan berliku, turunan tajam, berbukit, dan becek. Tak jarang warga sekitar menggunakan motor melewati jalur itu terjatuh karena jalan yang licin.
warga lokal, Benediktus Benus atau disapa Beni (33) mengatakan, jalan menuju Sungai Bala baru direhab 2011, namun pengerjaan terkesan asal-asal, bahkan tidak sampai pada titik akhir pengerjaan tinggal beberapa meter lagi, namun tidak di diselesaikan oleh pekerja.
"Pekerjaan jalan itu tidak selesai dikerjakan. Pengerjaannya pun asal-asalan. Yang penting jalannya ada saja sehingga dibiarkan begitu. Sekarang kondisi jalannya sangat rusak," kata Benus.
Sangat disayangkan lagi, pada proses pengerjaan jalan sama sekali tidak ada pengawasan. Kondisinya rusak karena sering disiram hujan dan banyak warga yang melintasmembuat kondisi jalan semakin rusak.
Padahal Dusun Sungai Bala merupakan akses penghubung ke sejumlah desa. Seperti Mondi dan Sungai Sambang.
Warga sekitar pun terpaksa setiap hari harus berjibaku dengan rusaknya jalan. Warga sekitar hanya bisa pasrah melihat keadaan tersebut lantaran tidak dapat berbuat banyak. Setiap hari warga berusaha melintasi jalan tersebut agar tidak terjatuh ketika melintasi tanah dengan kondisi tanah merah tersebut.
Jembatan Kerabat
Bagi anda yang hendak memasuki Dusun Sungai Bala. Jangan heran. Siap-siap melintasi jembatan kerabat. Jembatan tersebut diberi nama Jembatan Kerabat lantaran berada di atas Sungai Kerabat, merupakan denyut nadi masyarakat Sungai Bala untuk mandi dan mencuci.
Meski cuaca sedang panas. Air Sungai Kerabat sangat bening dan suhu air cukup dingin. Di sungai itu banyak ikan dan tengkuyung. Bahkan di waktu senggang, Sungai Kerabatan menjadi arena bermain anak-anak.
Sayang kondisi fisik Jembatan Kerabat memprihatinkan. Ada banyak lubang di jembatan tersebut. Kayu bulat besar yang dijadikan penyangga jembatan kondisinya sudah mulai lapuk. Bahkan kayu yang digunakan sebagai bantalan jembatan juga banyak yang berlubang. Ironisnya, jembatan yang dibangun sejak tahun 2000 nyaris runtuh karena termakan usia.
Menurut warga sekitar, jembatan tersebut dulunya dibangun oleh perusahaan kayu lapis yang masih berjaya ketika itu. Namun setelah perusahaan tersebut tidak ada lagi beroperasi, jembatan tersebut menjadi tidak terawat.
Alasan warga sekitar tidak mampu dana untuk memperbaiki jembatan tersebut. Mereka pun hanya mengandalkan bantuan dari Pemkab untuk perbaikan jembatan. Sayang bantuan itu tidak kunjung datang.
Masyarakat pun khawatir. Sewaktu-waktu jembatan akan runtuh. Pasalnya jembatan yang terbuat dari kayu tersebut menjadi satu-satunya penghubung warga dari dusun menuju desa. Juga menjadi penghubung antar warga menuju sekolah dan gereja.
Padahal jembatan tersebut menjadi akses warga untuk menjual hasil pertanian mereka ke tempat penampungan di perkotaan. Jika jembatan tersebut runtuh, maka dapat dipastikan aktivitas warga akan lumpuh dan warga akan terisolir karena tidak ada akses masuk atau pun keluar ke dusun tersebut.
Polindes dan SD
Letaknya jauh dari perkotaan menjadikan Dusun Sungai Bala kurang mendapatkan perhatian. Di dusun tersebut, hanya terdapat satu bangunan sekolah dasar negeri 16 Sungai Bala, Kecamatan Sekadau Hulu dan Polindes yang menjadi tempat satu-satunya warga untuk berobat dikala sakit. Khusus sekolah dasar tersebut, banyak anak desa menimba di sana. Tapi, untuk jenjang sekolah selanjutnya, masyarakat harus keluar dari dusun.
Begitu juga dengan kehadiran Polindes. Setiap hari ada 10-15 warga yang berobat. Lagi-lagi, fasilitas yang ada tidak mendukung kinerja petugas kesehatan yang bertugas di Sungai Bala.
Lengkap sudah penderitaan masyarakat Sungai Bala. Indonesia sudah merdeka pun, warga sama sekali belum merasakan fasilitas penerangan. Untuk menerangi perkampung mereka, sejumlah warga harus rela menggunakan genset. Sejak awal, listrik di dusun tersebut memang tidak ada, sehingga masyarakat memiliki inisiatif sendiri untuk menerangi rumah mereka dengan menggunakan genset. Namun genset tersebut hanya dihidupkan oleh satu rumah yang nantinya akan di distribusikan rumah warga lainnya.
“Genset ini berdaya sekitar 5 kilowatt. Hanya mampu menerangi 20 rumah warga. Tapi listrik tidak mampu bertahan lama. Hanya bisa kami hidupkan pukul 18.00- 21.00. Karena solar yang kami gunakan tidak mampu bertahan lama,” kata Ajang, pemilik mesin genset.
Membuat rumah warga hanya bisa teraliri genset sekitar 3 jam pada malam hari. Setelah itu, harus kembali gelap. Tapi warga yang mendapatkan aliran listrik bersepakat untuk membayar kepada sang pemilik senilai Rp 1.500 perbulan. Sedangkan untuk penggunaan listrik selama satu jam sekitar satu liter solar yang dihabiskan oleh pemilik.
“Satu jam satu liter solar. Semalam kami menghabiskan 5 liter solar untuk menerangi beberapa rumah warga, dengan harga solar Rp 10.000 perliter” katanya. Tentu warga sekitar sangat mengharapkan pemerintah menyediakan listrik untuk penerangan malam hari.
Natal dengan Kesederhanaan
Ketika perayaan Natal tiba, masyarakat berbondong-bondong datang ke Gereja Santo Rafael Malaikat Agung. Gereja tersebut baru dibangun oleh masyarakat sekitar menggunakan dana swadaya dari masyarakat itu sendiri untuk melaksanakan peribadatan.
Sayang, pembangunan gereja tersebut belum sepenuhnya sempurna, lantaran masyarakat masih kekurangan dana untuk melanjutkan pembangunan. Pekerjaan sebagian besar warga yang hanya sebagai petani tidak mampu berbuat banyak dalam melakukan pembangunan tersebut.
Masyarakat sekitar berharap adanya bantuan yang diberikan pemerintah setempat untuk pembangunan gereja mereka agar masyarakat yang melaksanakan ibadah berjalan baik.
Ketika perayaan Natal kemarin, terlihat kesederhanaan dari masyarakat sekitar dalam merayakan. Meskipun terkesan sederhana, ada senyum sumringah terpancar dari warga yang merayakan. Canda tawa selalu menghiasi hari-hari mereka.
Beberapa rumah warga, tampak kemilau dan gemerlap lampu Natal. Kehidupan masyarakat yang terdiri dari 70 kepala keluarga berkehidupan akrab. Tidak sekat atau kesenjangan diantara mereka dalam kehidupan sehari-hari.
Kehidupan dusun yang tenang dan sangat bersahaja dari penduduknya menjadi daya tarik tersendiri. Sebagian besar penduduk Sungai Bala bekerja sebagai petani karet. Merupakan komoditi yang masih digeluti warga sekitar.
Warga tetap mempertahankan pohon karet karena nilai jual yang cukup tinggi di pasaran. Apalagi sejumlah penampung yang siap mengambil hasil karet warga sekitar sehingga mereka tidak perlu repot untuk menjual hasil karet warga.
Yang pasti, cerita masyarakat Sungai Bala membuktikan, tanpa pemerintah warga bisa bertahan hidup. Tinggal bagaimana peran pemerintah bisa hadir di alam masyarakat yang masih terisolir.
| < Sebelumnya | Berikutnya > |
|---|
